Sebuah Kepergian

eramuslim – Kali itu Abu Bakar mengasingkan diri ke dalam rumah. Ia mengunci pintu akibat murung dan sedih yang sangat. Sesuatu yang nyeri terasa menusuk ulu hati. Pada saat yang nyaris sama, di jalan-jalan semua orang justru hiruk pikuk akibat gembira. “Agama kita telah sempurna!” seru mereka, sumringah luar biasa.
Hari itu Padang Arafah dilanda muram. Di atas untanya seorang lelaki di usia ke-63 terhenyak dikunjungi malaikat utusan. “Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnakan bagimu agamamu, Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku rela Islam menjadi agamamu.” Seayat wahyu terakhir telah disampaikan, dan Allah telah mengakhiri misi suci Jibril, sang penyampai firman.
Islam telah mencapai puncak kesempurnaan. Kabar gembira lekas tersebar. Tapi tidak bagi seorang Abu Bakar. Tergesa-gesa sekumpulan sahabat mendatangi Abu Bakar, mencari sebab terciderainya hati. Ia menjawab, “Kamu semua tidak tahu bencana yang kelak menimpa kita. Apakah kamu tidak paham, bahwa bila telah sampai titik kesempurnaan, maka telah bermula sebuah kemunduran dan kemerosotan. Telah terbayang perpecahan yang akan menimpa kita, dan nasib Hasan dan Husein yang menjadi yatim, serta para isteri Nabi yang menjadi janda.”
Semua yang hadir tersentak oleh kesadaran yang datang tiba-tiba. Mereka kini paham, ayat itu menjadi isyarat sebuah kepergian. Dan sepenjuru Madinah lekas-lekas berubah, dari gembira menjadi gelanggang air mata. Cinta mereka yang tak berbatas kian menemui kedalamannya menjelang perpisahan.
***
Menginjak milenium ketiga yang miskin solidaritas, krisis kepemimpinan, dan demoralisasi yang kronis, membuat sosok seorang Muhammad SAW, lelaki agung itu lebih serupa dengan mitos. Padahal, ia sosok yang nyata, dari kalangan manusia biasa. Sukar untuk membayangkan, seorang penguasa yang duduk di singgasana tikar belukar.
Ia menjadi yang pertama di antara orang-orang yang lapar, dan terakhir untuk mencapai kenyang. Bajunya ia tambal sendiri, tungkunya kerap tak berasap, dan biasa menyapu sendiri lantai rumahnya. Tak alpa, bersama ‘Aisyah, sang isteri, ia sering dijumpai berlari pagi. Kewibawaan besarnya tak membatasi diri dari kesediaan melimpahi kemesraan mengagumkan.
Sekali waktu iringan jenazah datang dari kejauhan. Muhammad SAW, berdiri dengan sikap penuh hormat. Ketika prosesi mendekat, seorang sahabat berujar memberi ingat, “Tapi, itu jenazah orang Yahudi!” Namun, sang Nabi tetap tegak. Lembut ia berucap, “Jika ada iringan jenazah lewat, berdirilah.”
Kini, semua orang memang harus belajar dari sebuah keteladanan tentang penghormatan terhadap semua sisi kemanusiaan–sejauh apapun perbedaan ras, golongan, dan bahkan, agama. Kemanusiaan yang sama tanpa batas.
Ia mendampingi peristiwa kematian, bencana, kesedihan, dan juga, mungkin, kegembiraan.
Kesadaran adalah matahari, demikian Rendra di suatu kali. Kesadaran seorang Muhammad, SAW, mewarisi benih yang indah tentang budi yang luhur–dalam pengertian reason dan moralitas. Sebuah Das Sein (realita) yang tak berbeda dari Das Sollen (idealita). Ia adalah kapital besar yang memiliki kesanggupan mengatasi benci dan amarah.
Dalam prasangka-prasangka yang keruh, sisi kemanusiaan yang diajarkan sang Nabi menjadi sumber terang profetik yang melegakan.
***
Ibnu Abbas mengisahkan. Menjelang wafatnya, Rasulullah memberi kesempatan pada semua yang pernah teraniaya olehnya untuk membalas. Seorang lelaki berdiri. ‘Ukasyah ibn Mukhsin namanya. Ia bercerita bahwa dalam perang Badar Rasulullah pernah mencabuknya tak sengaja. Rasul pun memerintah Bilal mengambil cemeti di rumah Fatimah. Tapi itu tak cukup. ‘Ukasyah menambahkan, saat itu pada badannya tak terlapisi kain sehelai benang pun. Maka sang Nabi pun menggelontorkan pakaian. Sebagian sahabat menjadi geram, dan sebagian lainnya menangis tak sanggup menatap orang yang dicintainya akan menerima cambuk. Tapi, sekelebat kemudian ‘Ukasyah menubruk dan memeluk Rasulullah dalam tangis terisak, “Siapa pula yang tega hati meng-qishas engkau? Aku berbuat demikian hanya agar tubuhku dapat bersentuhan dengan tubuhmu.”
Cinta agape dipentaskan jaman. Demikianlah kisah sang Nabi yang mencintai ummatnya begitu dalam. Menjelang mautnya, ia tak berpikir tentang diri sendiri dan kebahagiaan menjumpai Sang Penguasa Akhir Zaman. Dari bibir lelaki itu Anas bin Malik hanya mendengar sebuah gelisah, “Ummatku, ummatku, ummatku…”
***
Anggi Aulina Harahap
Danka_center11@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *