Indahnya Menjaga Pandangan

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Mahasuci Allah yang telah membekali kita pandangan, pendengaran, dan
hati agar kita bersyukur. Mahaindah Kasih Sayang-Nya yang telah
mengizinkan kita untuk menikmati warna-warni alam semesta, aneka
rupa bentuk benda-benda. Shalawat mari kita lantunkan pada Rasul
Muhammad terkasih, yang telah menunjukkan pada kita, bagaimana
semestinya kita menggunakan anugerah Allah yang berupa mata ini.

Suatu ketika Ummi Salamah ra berkata: Ketika saya dengan Maimunah
ada di sisi Rasulullah SAW tiba-tiba masuk ketempat kami Abdullah
bin Ummi Maktum, kejadian itu sesudah ayat hijab yang diperintahkan
kepada kami. Rasulullah bersabda: "Berhijablah kamu daripadanya".

Kami menjawab, "Ya Rasulullah bukankah ia seorang yang buta tidak
melihat dan tidak mengenal kepada kami?" Kemudian beliau
menjawab, "Apakah kamu juga buta, tidakkah kamu melihat padanya?".
Dalam kisah lain disebutkan pula bahwa Rasulullah SAW pernah
menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Al-Fadhl, ketika
sahabatnya itu ketahuan tengah memandang seorang wanita asing dengan
sengaja.

Dari kedua kisah ini kita mendapati bahwa Rasulullah adalah orang
yang sangat menjaga pandangannya. la amat berhati-hati dalam
memandang sesuatu, terutama yang berkaitan dengan memandang
seseorang yang bukan muhrim kita. Semua ini, tidak lain, menunjukkan
ketaatan beliau atas perintah Allah seperti yang tercantum dalam
Alquran, Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (QS. An-
Nuur: 30). Dalam ayat selanjutnya Allah SWT memerintahkan pula hal
yang sama pada kaum perempuan. Amat banyak hikmah yang dapat kita
ambil dari menjaga pandangan itu.

Salah satunya adalah menjaga diri dari perilaku tercela.
Sesungguhnya, mata kita adalah gerbang maksiat. Siapa saja yang
kurang mampu menjaga pandangannya dari sesuatu yang diharamkan, maka
sedikit demi sedikit ia akan terjerumus ke dalam jerat syetan.
Berawal dari mata, kemudian kaki berpindah ingin mendekat dan
seterusnya, hingga akhirnya sangat mungkin akan menjerumuskan
manusia pada perzinahan.

Zina adalah dosa besar, yang bukan hanya dimurkai Allah, namun
akibatnya pun akan dirasakan sang pelaku dan orang-orang di
sekitarnya selama di dunia. Penyakit AIDS yang akan membunuh
seseorang secara pelan-pelan dalam kelemahan dan keterasingan,
hanyalah salah satu akibat dari perbuatan keji ini.

Menjaga pandangan bukanlah hal yang mudah dilakukan apalagi bagi
kita yang hidup di zaman modern seperti ini. Lihatlah ke samping
kiri, kanan, depan dan belakang kita, lawan jenis senantiasa
mengelilingi? Tidak hanya di pusat-pusat keramaian, di dalam mobil
angkutan umum saja, campur baur dengan lawan jenis pun tak dapat
dihindarkan. Bahkan ketika berdiam dirumah saja, menahan pandangan
tidak kalah susahnya. Koran, majalah dan televisi menyuguhkan
pemandangan yang dapat membuat hati tergelincir karenanya.

Tak heran, ibadah kita sering berantakan. Bacaan Alquran kita kering
kerontang. Berdoa pun sulit sekali khusyu apalagi sampai dapat
mengeluarkan air mata penyesalan karena tidak mentaati perintah-Nya.
Karena hal ini pula, menuntut ilmu menjadi sebuah pendakian yang
sangat terjal.

Mendapatkannya sungguh sulit nyaris tiada terperi, sedangkan
hilangnya menjadi sangat mudah sekali. Hal ini sesuai dengan apa
yang dikatakan seorang alim pada muridnya, "Wahai anakku,sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Ia tidak akan mau masuk ke
dalam hati yang di dalamnya kotor oleh maksiat".

Pandangan liar, tidak bisa tidak, akan mengikis kualitas iman yang
tumbuh dalam hati seseorang. Iman itu tidak hilang dengan tiba-tiba
dan serentak, namun periahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Pada
kenyataannya pandangan terhadap lawan jenis yang tak halal, menjadi
media paling efektif untuk menghilangkan keimanan dari dalam diri.

Ia adalah salah satu senjata syetan yang sangat ampuh. Dalam Surat
An-Nisaa ayat 118, syaitan laknatullah menegaskan komitmennya, "Saya
benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang
sudah ditentukan untuk saya".

Artinya, sebagaimana sebuah riwayat menuturkan bahwa pandangan
adalah panah-panah syetan, sedang syetan itu tak menginginkan apapun
dari manusia selain keburukan dan kebinasaan. Maka penjagaan kita
terhadap pandangan mata menjadi satu kunci pokok menuju keselamatan.

Bila saat ini, ketika tak ada tangan Rasulullah yang dapat
memalingkan wajah kita dari memandang perempuan, manakala tiada
teguran dari mulut suci beliau yang menyuruh para wanita berhijab
dari melihat lelaki yang bukan haknya untuk dilihat, maka mengingat
sabda-sabda Rasulullah SAW yang masih terpelihara ini menjadi satu
keniscayaan.

Memang, dalam kondisi tertentu kita diperbolehkan memandang lawan
jenis, seperti dalam proses belajar mengajar, jual beli, pengobatan,
maupun persaksian. Walaupun demikian, taburilah selalu hati kita
dengan firman Allah yang menjanjikan kemuliaan dan derajat yang
tinggi bagi orang-orang yang mampu menjaga diri dari hal yang
diharamkan-Nya.

Alhasil andaipun pada awalnya hal ini amat sulit kita lakukan, namun
yakinlah bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh ingin menempuh
jalan Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi
membimbing jalannya.

Sebagaimana firman-Nya yang tertera dalam Surat An-Nahl ayat 127-
128, Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati
terhadap (kekafiran ) mereka dan janganlah kamu bersempit dada
terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat
kebaikan. Akhir kata, pandangan yang terjaga dengan baik, insya
Allah akan membuat seseorang dapat merasakan manisnya iman dan
lezatnya mengingat Allah. Wallahua'lam bish-shawab.

Tawadhu: Hakikat Hidup Berprestasi
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

ALLAH SWT adalah dzat yang Mahabesar dan hanya Dia-lah yang berhak
menyatakan kebesaran Diri-Nya. Adapun segenap makhluk ciptaan-Nya
adalah teramat kecil dan sama sekali tidak layak merasa diri besar.
Seorang hamba yang lisannya berucap, "Allaahu Akbar!" serasa jiwanya
bergetar karena sadar akan kemahabesaran-Nya, dialah orang yang
menyadari kekerdilan dirinya di hadapan Dzat yang serba Maha.

Sungguh, Allah sangat suka terhadap orang yang merendahkan diri di
hadapan-Nya, sehingga diangkatlah derajat kemuliannya ke tingkat
yang sangat tinggi di hadapan semua makhluk, apalagi di hadapan-
Nya. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS. Al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya betapa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang
menyombongkan diri di muka bumi. Allah berfirman, "Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri." (QS. An-Nisa: 36). Syurga pun mengharamkan dirinya
untuk dimasuki oleh orang-orang yang di dalam kalbunya terdapat
kesombongan walaupun hanya sebesar debu.
< br />Segenap makhluk yang ada di alam semesta ini tiada memiliki daya dan
upaya, kecuali karena karunia kekuatan dari Allah SWT? Laa haula
walla quwwata illa billaah! yang menciptakan tubuh ini pun Allah.
Yang mengalirkan darah dalam peredaran yang sempurna, yang
mendetakkan jantung, pendek kata yang mengurus sekujur badan ini pun
hanya Allah semata! Manusia sama sekali tidak berdaya sekiranya
Allah menghendaki sesuatu atas jiwa dan raga ini.

Karena itu, Allah SWT mengancam manusia yang melupakan hakikat
dirinya. "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan
dirinya di muka bumi ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda
kekuasaan-Ku" (QS. Al-A'raf: 146). Dalam ayat lain
disebutkan, "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong
dan sewenang-wenang" (QS. Al-Mu'min: 35).

Ternyata rahasia hidup sukses atau sebaliknya hidup terhina dan
tiada harga, tidak terlepas dari seberapa mampu seseorang
menempatkan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah
kunci bagi siapa saja yang ingin memiliki pribadi unggul.

Seseorang niscaya akan lebih cepat maju manakala mempunyai sifat
tawadhu dan tidak sombong. Mengapa demikian? Kunci terpenting untuk
sukses adalah adanya kesanggupan menyerap ilmu dan meluaskan visi,
kemampuan mendengar dan menimba ilmu dari orang lain. Hal ini akan
membuat kita semakin cepat melesat dibandingkan dengan orang-orang
yang sombong, merasa pandai sendiri, mengganggap cukup dengan ilmu
yang dimilikinya, sehingga merasa diri tidak lagi membutuhkan
pendapat, pandangan, dan visi dari orang lain.

Ketahuilah, kita ini adalah makhluk yang serba terbatas. Buktinya,
kita tidak bisa melihat kotoran di mata atau hidung sendiri.
Artinya, kita membutuhkan cermin dan alat bantu lainnya agar bisa
menguji semua yang kita miliki ataupun melengkapi sesuatu yang belum
kita miliki.

Islam mengajarkan kita agar tidak sombong. Kita harus berani
mendengarkan segala sesuatu dari orang lain. Kita tidak dilarang
untuk punya pendapat, tetapi orang lain pun tidak salah jika
memiliki pendapat berbeda. Kita harus bersedia mendengarkannya,
paling tidak untuk menguji pendapat kita apakah bisa dipertahankan
atau tidak. Atau, bahkan untuk melengkapi pendapat kita, sehingga
semakin bermutu.

Karenanya, berhati-hatilah dengan segala yang berbau kesombongan,
merasa diri hebat, pemborong syurga, paling benar, paling mampu.
Semua itu hanya akan mengurangi kemampuan yang ada pada diri kita.
Sesungguhnya kesombongan itu akan menutup hal yang sangat fitrah
dari diri manusia yaitu kemampuan melengkapi diri.

Kita harus menjadi orang yang tamak terhadap ilmu, serakah terhadap
pengalaman dan wawasan. Tiap bertemu dengan orang, lihatlah
kelebihannya, simaklah kemampuannya, lalu ambillah kelebihannya itu.
Tentu ini tidak akan menjadikan orang tersebut bangkrut dan tidak
memiliki kelebihan lagi. Sebaliknya, kemampuan orang yang kita
mintai ilmunya akan semakin berkembang selain kita pun akan semakin
maju.

Tidak mungkin kita ditakdirkan bertemu dengan seseorang, kecuali
pasti akan menjadi ilmu dan pengalaman baru, sekiranya diri kita
dilengkapi dengan hati yang bersih. Tentu yang bisa menjadi ilmu itu
tidak sekedar hal-hal yang menyenangkan saja. Aneka pengalaman yang
tidak menyenangkan, seperti penghinaan, kritik atau cemoohan, semua
ini tetap menjadi ilmu yang akan meningkatkan wawasan, kemampuan,
karakter, mental ataupun keunggulan-keunggulan lain yang bakatnya
sudah kita miliki.

Adapun hal yang sangat utama dan paling menentukan bobot dari semua
perilaku dan kiprah kita dalam meningkatkan kualitas dan keunggulan
diri adalah hati yang bersih. Kedongkolan, kemangkelan, kejengkelan,
kebencian, dan semua hal yang bisa membuat tidak nyamannya hati,
jelas-jelas merupakan sikap kejiwaan yang kontraproduktif.

Kita akan banyak kehilangan waktu karena kotor hati. Kalau kita
termasuk tipe pemarah serta gemar memuaskan hawa nafsu dan
kedendaman, maka kita akan kehilangan waktu untuk kreatif dan
produktif. Akan tetapi, sekiranya hati kita bersih dan sejuk, maka
kendatipun hantaman masalah dan kesulitan datang bertubi-tubi,
niscaya kita akan seperti intan yang tiada pernah hilang kilauannya
sepanjang masa. Bukankah intan itu tidak akan pernah hancur wujudnya
dan berkurang kilauannya kendati dihantam dengan batu bata secara
bertubi-tubi, bahkan dia sendiri yang akan hancur? Kesejukan,
kebersihan, dan ketentraman hati, tidak bisa tidak, akan
mempengaruhi pikiran ini menjadi lebih lebih bermanfaat dan bermakna.

Tampaknya umat Islam akan bangkit bila mampu bersinergis, saling
membantu satu sama lain. Kuncinya adalah bebasnya hati dari
kedengkian, dan kebusukan. Kita harus belajar senang melihat orang
lain maju. Kita pun harus belajar ikut bersyukur melihat kesuksesan
dan prestasi orang lain seraya membuat kita terbakar untuk bisa
lebih maju lagi. Wallahu a'lam.

Jiwa Mandiri Kunci Harga Diri
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita
bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT. Perjuangan kita untuk
menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah
bukti kemuliaan kita. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

Segera setelah berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan
orang-orang Anshar dan Muhajirin. Ada satu kisah menarik yang
terjadi ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf
dengan Sa'ad bin Rabi--orang paling kaya dari golongan Anshar.

Ketika itu Sa'ad berkata kepada Abdurrahman: "Saudaraku, aku adalah
penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separuh hartaku dan
ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan mana
yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda
dapat memperistrinya.

Jawab Abdurrahman bin 'Auf: "Semoga Allah memberkati anda, juga
isteri dan harta anda! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat
berniaga....! Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjualbelilah di
sana.......

Hingga suatu ketika Rasul menyapanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang,
wahai Abdurrahman?" Ia pun menjawab, "Ya Rasulullah, saya sudah
menikah dan maharnya saya bayar dengan emas.

SAHABAT, kita sangat layak untuk meneladani sikap yang ditunjukkan
Abdurrahman bin Auf di atas. Itulah kemandirian yang berakar dari
terjaganya harga diri. Sebuah sikap terpuji yang mulai hilang dalam
kehidupan masyarakat kita.

Sudah menjadi keniscayaan, jika kita bersandar kepada selain Allah,
pasti kita akan takut kalau sandaran itu diambil orang. Tapi bila
kita bergantung kepada Allah SWT, maka tak ada sedikitpun keraguan
dan kecemasan yang akan menghampiri. Allah tidak akan mengabaikan
orang yang bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya. Dalam sebuah
hadis qudsi disebutkan, "Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku
dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila
ia mendekati-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu
hasta".

Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. Selain akan merdeka dalam
hidupnya, orang yang mandiri akan lebih rasa percaya diri, sehingga
bisa melakukan pekerjaan lebih banyak,
ucapannya lebih bermakna, dan

waktunya akan lebih efektif. Karena itu, perjuangan kita untuk
menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta kepada selain Allah
adalah bukti kemuliaan sejati.

Tapi kenapa ada orang yang begitu "tega" menggadaikan harga dirinya
demi harta duniawi yang sedikit? Ataupun--dalam skala luas--kenapa
bangsa kita yang demikian kaya harus mengemis minta bantuan negara
lain? Jawabnya, kita terlalu menganggap topeng dunia sebagai sumber
harga diri. Sebagian besar kita terlalu sibuk membangun aksesoris
duniawi, tanpa disertai kesibukan membangun harga diri. Tak
mengherankan apabila ada orang yang jabatannya tinggi tapi
perbuatannya rendah. Atau ada yang hartanya banyak, tapi jiwanya
miskin.

KITA harus mulai bangkit menjadi manusia-manusia berjiwa mandiri.
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, tekadkan dalam
diri untuk menjadi orang yang mandiri. Dalam hidup yang hanya sekali
ini, kita harus terhormat dan jangan menjadi budak dari apapun
selain Allah SWT. Tekadkan terus untuk selalu menjaga kehormatan
diri dan pantang menjadi beban. Andai pun hidup kita membebani orang
lain, kita harus berusaha membalas dengan apa-apa yang bisa kita
lakukan. Ketika kita membebani orangtua, maka harga diri kita adalah
membalas kebaikan mereka. Begitupun kepada guru, teman, atau
tetangga. Jangan sampai diri kita terhina karena menjadi benalu dan
peminta-minta yang hanya menyusahkan orang lain.

Kedua, berani memulai. Hanya dengan keberanian orang bisa bangkit
untuk mandiri. Tidak pernah kita berada di atas tanpa terlebih
dahulu memulai dari bawah. Adalah mimpi menginginkan hidup sukses
tanpa mau bersusah payah terlebih dulu.

Sungguh, dunia ini hanyalah milik para pemberani. Kesuksesan,
kebahagiaan, dan kehormatan sejati hanyalah milik pemberani. Orang
pengecut tidak akan pernah mendapatkan apa-apa karena ia melumpuhkan
kekuatannya sendiri. Kejarlah dunia ini dengan keberanian. Lawanlah
ketakutan dengan keberanian. Takut gelap, berjalanlah di tempat
gelap. Takut berenang, segeralah menceburkan diri ke air. Semakin
kita mampu melawan rasa takut, rasa malas, dan rasa tidak berdaya,
maka akan semakin dekat pula keberhasilan itu dengan diri kita.
Memang, segala sesuatu ada resikonya. Tapi inilah harga yang harus
kita bayar dalam mengarungi hidup. Kalau kita tidak mau membayar
harganya, kita pasti akan tersisih.

Ketiga, nikmatilah proses. Segalanya tidak ada yang instan, semua
membutuhkan proses. Keterpurukan yang menimpa negeri kita, salah
satu sebabnya karena kita ingin segera mendapatkan hasil. Padahal,
tidak mungkin ada hasil tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu.

Kita harus mau belajar menikmati proses perjuangan, menikmati
tetesan keringat dan air mata. Dengan perjuangan nilai kehormatan
yang sesungguhnya bisa terwujud. Kita jangan terlalu memikirkan
hasil. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik. Allah tidak akan
memandang hasil yang kita raih, tapi Ia akan memandang kegigihan
kita dalam berproses.

Kita tidak tahu kapan negeri ini akan bangkit. Tetapi bagaimana pun
kita harus memulai dengan sesuatu. Ingatlah selalu kisah seorang
kakek yang dengan semangat menanam pohon kurma. Ketika ditanya untuk
apa ia melakukan semua itu, maka ia menjawab, "Bukankah kita makan
kurma sekarang karena jasa orang-orang yang sudah meninggal. Kenapa
kita tidak mewariskan sesuatu untuk generasi sesudah kita?".

Namun, jangan sampai kegigihan dan kemandirian kita mendatangkan
rasa ujub akan kemampuan diri. Kemandirian yang sejati seharusnya
membuat kita tawadhu, rendah hati. Sertailah kegigihan kita untuk
mandiri dengan sikap tawadhu dan tawakal kepada Allah SWT.

Jadi, kemandirian bukan untuk berbangga diri, tapi harus membuat
kita lebih memiliki harga diri, bisa berprestasi, dan tidak membuat
kita tinggi hati. Wallahua'lam.

Rahasia Silaturahmi
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan
kebaikan ataupun keburukan? "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan
kebaikan," sabda Rasulullah SAW, "adalah balasan (pahala) orang yang
berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmni, sedangkan yang
paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi
orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan."
(HR. Ibnu Majah).

SILATURAHMI tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf
belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek
mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari
silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti
menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih
sayang.

Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu
yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna
sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang
bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW
bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang
membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu
ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari
bahwa silaturahmi tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh, namun
harus melibatkan pula aspek hati di dalamnya. Dengan kombinasi
bahasa tubuh dan bahasa hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk
bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan
orang lain pada kita.

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini
tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita
melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang
tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi
kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus
menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka inilah yang disebut
silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang
membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan
kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah
silaturahmi yang sebenarnya.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para
sahabat, "Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah". Para
sahabat pun bertanya, "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?"
Beliau kemudian bersabda lagi, "Hendaklah kalian suka menghubungkan
tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi
sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu
kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah)
kepada orang yang menganggap kalian bodoh" (HR. Hakim).

Dalam hadis lain dikisahkan pula, "Maukah kalian aku tunjukkan amal
yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya
Rasulullah SAW kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka.
Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar,
menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali
saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam
Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah
amal shalih yang be
sar pahalanya. Barangsiapa yang ingin

dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia
menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari Muslim).

Dari sini terlihat jelas, betapa pentingnya menyambungkan tali
silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa
tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalinlah rasa kasih sayang
dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini
terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan
menaungi hidup kita.

Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila
tali silaturahmi sudah terputus di antara kita. Rasulullah SAW
bersabda, "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu
kaum yang di dalamya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan".

Seorang sahabat yang bernama Abu Awfa pernah betutur kisah. Ketika
itu, kata Abu Awfa, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba
beliau bersabda, "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang
memutuskan tali silaturahmi". Setelah itu seorang pemuda berdiri dan
meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah lama ia memendam
permusuhan dengan bibinya. Ia segera meminta maaf kepada bibinya
tersebut, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis
Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

* * *

SAHABAT, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam
hati masih tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama
muslim. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di
masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah
tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang
sudah saling menohok dan memfitnah, maka rahmat Allah akan di
jauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam
lingkup sebuah negara. Bila di dalamnya sudah ada kelompok yang
saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka
dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara tersebut akan terputus dari
rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini bisa kita pahami mengapa Rasulullah SAW tidak mentoleransi
sekecil apapun perbuatan-perbuatan yang akan menimbulkan perpecahan
dan permusuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah,
Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka,
sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita (berita). Jangan pula
menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan
janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling
membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara"
(HR. Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah
SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan
terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimana pun
besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada
artinya, laksana buih di lautan yang mudah diombang-ambing
gelombang, bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk
taat kepada Allah. Wallahu a'lam.

Ilmu yang Bermanfaat
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Mujaadilah: 11).

Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan maksud untuk
bermegah-megah, menyombongkan diri, berbantah-bantahan, menandingi,
dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya orang
mengagumimu.

MAHABESAR Allah yang dengan ilmu-Nya telah membuat jagat raya
beserta isinya tercipta. Betapa Ia menciptakan segala yang
dikehendakinya itu cukup dengan jadilah; "kun fayakun!"

Sepintar apapun manusia, ia begitu kecil di hadapan Allah. Ilmu yang
dimilikinya hanyalah setetes kecil saja dari samudera ilmu yang
Allah miliki. Dalam QS. Lukman: 27, Allah SWT berfirman, "Dan
seandainya pohon-pohon dijadikan pena dan laut (dijadikan) tinta,
ditambah kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya
tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah)
Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana".

Karena itu, alangkah tidak pantasnya bila seseorang menjadi ujub dan
takabur, karena ilmu yang dimilikinya. Mestinya, semakin tinggi ilmu
maka semakin bertambah pula rasa takjub dan takutnya kepada Allah.

Seseorang menjadi ujub, riya, dan takabur dengan ilmunya - apalagi
bila digunakan untuk membuat kerusakan dan kemudharatan di muka
bumi, tiada lain karena ilmu yang dimilikinya itu tidak mengandung
hikmah dan manfaat. Maka pantaslah kalau Rasulullah SAW memohon, "Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat".

LALU seperti apakah ilmu yang bermanfaat itu? Suatu ketika Allah SWT
memberi wahyu kepada Nabi Daud, "Wahai Daud, pelajarilah olehmu ilmu
yang bermanfaat".

"Ya, Allah, apakah ilmu yang bermanfaat itu?" tanya Daud. "Ialah
ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan,
kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu. Inilah
yang mendekatkan engkau kepada-Ku".

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ar-Rabi'i Rasulullah SAW
bersabda, "Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya menuntut ilmu adalah
pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan mengajarkannya
pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya
ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan
mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan
akhirat".

Sahabat, ternyata ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang
menyebabkan kita makin mengenal dan dekat dengan Allah SWT. Ilmu
apapun, sekiranya dapat membuat kita semakin dekat dan semakin kagum
akan kebesaran-Nya, maka itulah ilmu yang bermanfaat.

Ilmu yang bisa menjadi jalan taat kepada Allah akan membuat
seseorang menjadi tawadhu dan rendah hati di hadapan orang lain.
Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. Maka semakin bertambah
ilmu seseorang, akan semakin bersih pula hatinya dari penyakit
tercela. Ia akan terpelihara dari sikap ujub, riya, takabur, dengki,
dan memandang rendah orang lain.

Dengan ilmu itu pula, ia akan menjadi jalan bagi sebesar-besarnya
kemaslahatan dan kemanfaatan semua orang. Keberadaannya bagaikan
cahaya penerang dalam kegelapan. Menjadi petunjuk bagi orang yang
tersesat jalannya. Orang-orang di sekelilingnya akan merasa tenang
dan tenteram atas kehadirannya. Allah sendiri telah berjanji dalam
Alquran, "_Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-
Mujaadilah: 11).

BAGAIMANA caranya agar kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat
tersebut? Hal pertama dan utama adalah keikhlasan ketika mencarinya.
Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menulis,

"Wahai hamba Allah yang rajin menuntut ilmu. Jika kalian menuntut
ilmu, maka niatkanlah dengan ikhlas karena Allah semata. Di samping
itu, juga dengan niat karena melaksanakan kewajiban karena menuntut
ilmu wajib hukumnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah
SAW, 'Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim laki-laki maupun
perempuan' (HR. Ibnu Abdul Barr).

Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan maksud untuk
bermegah-megahan, menyombongkan diri, berbantah-bantahan,
menandingi, dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya
orang mengagumimu. Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan
sarana mengumpulkan harta kekayaan duniawi. Yang demikian itu akan
merusak agama dan mudah membinasakan dirimu sendiri.

Rasulullah yang mulia melarang hal seperti itu dengan
sabdanya, 'Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk
mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali
hanya untuk mendapatkan harta duniawi, maka ia tidak akan memperoleh
bau harumnya syurga pada hari kiamat' (HR. Abu Dawud).

Dalam hadis lain beliau bersabda, 'Janganlah kalian menuntut imu
untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di
kalangan orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut imu
untuk penampilan dalam majelis dan untuk menarik perhatian orang-
orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka' (HR.
Tirmidzi dan Ibnu Majah).

'Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhaan Allah,
maka ia akan ditakuti segalanya. Akan tetapi, jika ia bermaksud
untuk menumpuk harta, maka ia akan takut dari segala sesuatu,'
demikian sabda Rasulullah SAW dalam riwayat lain (HR. Ad-Dailami)".

SAHABAT. Kita harus menggunakan waktu yang sangat singkat ini untuk
mencari ilmu yang bermanfaat bagi agama maupun bagi diri dan
lingkungan kita. Sekali lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
dapat menambah ketakwaan dan pengenalan kita pada Allah SWT.

Ilmu yang bisa menambah kemampuan kita untuk melihat cacat serta
kekuarangan diri. Ilmu yang dapat mengurangi kegilaan kita pada
duniawi, dan menambah kecintaan kita pada kampung akhirat yang
kekal. Juga, ilmu yang dapat membuka mata dan hati terhadap semua
hal yang bisa merusak amal ibadah kita. Wallahu a'lam bish-showab.

Sabar Itu Indah
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan rindu sesuatu,
ia berdoa habis-habisan dan berupaya sungguh-sungguh demi
tercapainya segala yang dirindukan. Tatkala berhasil, serta-merta ia
pun melupakan Allah. Bahkan ia menganggap bahwa keberhasilan itu
adalah hasil jerih payah dirinya sendiri.
Sebaliknya, bila kegagalan menimpa, ia sering kecewa karenanya.
Terkadang ia berburuk sangka kepada Allah dan menimpakan
kekecewaannya itu kepada siapa saja yang dianggap biang penyebab
kegagalan tersebut. Padahal, rasa kecewa, sedih, dan kesal itu lahir
karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus selalu
cocok dengan keinginannya.

Jelas dari kedua sikap tersebut ada sesuatu yang terlewatkan. Yaitu
sikap sabar, tawakal, dan syukur nikmat. Karenanya, beruntunglah
orang yang memiliki sikap sabar ketika musibah datang menimpa dan
memiliki syukur ketika keberuntungan datang menerpa.

Sabar, menurut Dzunnun Al-Mishry, adalah menjauhkan diri dari hal-
hal yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala
terkena musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran di tengah-
tengah medan kehidupan. Atau, seperti kata Al-Junaid, "Engkau
menelan suatu kepahitan tanpa mengerutkan muka".

Adapun syukur, adalah tindakan memuji si pemberi nikmat atas
kebaikan yang telah dilakukannya. Seseorang dikatakan bersyukur
kepada Allah, apabila ia mengakui nikmat itu di dalam batinnya, lalu
membicarakannya dengan lisan, serta menjadikan karunia nikmat itu
sebagai ladang ketaatan kepada-Nya. Pada hakikatnya syukur itu
merupakan perwujudan sikap sabar ketika manusia mendapat nikmat.

Mengapa kita harus bersabar ketika mendapatkan nikmat? Karena,
karunia nikmat itu justru akan menggelincirkan manusia ke dalam
kekhilafan dan memperturutkan hawa nafsu. Betapa banyak orang yang
mampu bersabar ketika diberikan ujian, tapi tak mampu bersabar
ketika diberi kenikmatan.

Lalu seberapa mampukah kita merasakan nikmatnya sabar?
Syahdan, di masa Rasulullah SAW, sebuah ujian menimpa Ummu Sulaim.
Suatu hari anaknya meninggal dunia, padahal suaminya sedang
bepergian. Ummu Sulaim berusaha agar kematian anaknya itu tidak
diketahui dengan tiba-tiba oleh sang suami sedatangnya dari
perjalanan nanti. Ia pun mempersiapkan hidangan untuk menyambut
kedatangan suaminya.

Ketika sang suami datang, ia pun segera menyantap hidangan yang
telah dipersiapkan dengan lahapnya. "Bagaimana keadaan anak kita
sekarang?" tanya suaminya. "Alhamdulillah, sejak sakitnya itu tidak
pernah setenang malam ini," jawab Ummu Sulaim.

Sementara itu, Ummu Sulaim menghias diri dengan memakai pakaian
terindah yang dimilikinya, agar sang suami timbul hasratnya. Tak
lama setelah sang suami menggauli dan memuaskan hajatnya, Ummu
Sulaim mulai bertanya, "Apakah Kanda tidak merasa heran dengan
tetangga-tetangga kita itu?"

"Mengapa mereka?" tanya suaminya.
"Mereka itu diberi pinjaman, tetapi setelah diminta kembali, tiba-
tiba mereka menyatakan kedukacitaan yang luar biasa," jawab Ummu
Suliam.

"Buruk sekali kelakukan mereka itu," ujar suaminya.
Ketika itulah ia memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi terhadap
anaknya. "Kanda," ujarnya. "Bukankah anak kita itu hanya pinjaman
dari Allah? dan kini Allah telah memanggilnya kembali".

Setelah mendengar perkataan istrinya tersebut, sang suami pun sadar
akan apa yang terjadi. "Alhamdulillah, inna lillahi wa inna ilaihi
raaji'uun," ujarnya penuh ketabahan.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar suaminya pergi ke tempat
Rasulullah SAW dan memberitahukan kejadian tersebut. Rasul pun
berdoa untuk keluarga itu, "Ya Allah, berilah keberkahan untuk kedua
suami istri itu pada malam harinya tadi".

Dalam kisah lain diceritakan bagaimana sedihnya Nabi Ya'kub ketika
mendengar anaknya, Yusuf meninggal, hingga dikisahkan bagaimana
matanya menjadi putih (QS. Yusuf: 84). Dan kesedihan itu semakin
bertambah ketika anaknya yang lain Bunyamin ditahan pemerintah
Mesir. Namun, apa yang dikatakan Nabi Ya'kub ketika itu? "Fa shabrun
jamiil" (QS. Yusuf: 83). Sabar itu indah!

Jadi, kemampuan merasakan nikmatnya sabar terletak pada seberapa
besar mutu pengakuan akan adanya takdir dan kemahakuasaan Allah SWT.
Seseorang bisa sabar - seperti yang dilakukan Ummu Sulaim dan
suaminya - bila ia mampu meyakini bahwa semua yang terjadi karena
izin Allah dan meyakini bahwa Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya.

Sa'ad bin Jubair memberikan contoh tentang seorang budak belian yang
dipukul dengan cambuk. Namun sikap budak tersebut seolah-olah
mencerminkan makna firman-Nya, Inna lillahi _ Sesungguhnya kami
hanya milik Allah semata. Jadi, ia mengakui bahwa dirinya adalah
kepunyaan Allah yang bebas dipergunakan dan diapakan saja oleh
Allah. Sedangkan harapannya akan pahala dikarenakan musibah tersebut
seakan merupakan makna dari firman-Nya, Wa inna ilaihi raaji'uun _
Dan kepada-Nya kita kembali. Oleh karena itu, tidak mengherankan
ketika Abu Bakar As-Siddiq jatuh sakit, dan para sahabat yang
menjenguknya bertanya, "Saudaraku, tidakkah sebaiknya kami
panggilk
an saja tabib?". Abu Bakar menjawab, "Sudah, tabib sudah

memeriksaku". "Apa yang dikatakannya?" tanya mereka. Abu Bakar
menjawab, "Dia katakan, 'Aku Maha Berbuat terhadap apa yang Aku
kehendaki _!".

Dengan demikian, syarat mutlak orang bisa bersabar adalah ketika
ditimpa sesuatu, pikirannya langsung tertuju hanya kepada Allah SWT.
Inilah kunci terpenting yang harus dimiliki siapa saja yang ingin
menjadi ahli sabar.

Karena itu, keindahan dan keluhuran pribadi seseorang dapat dilihat
dari sejauh mana ia pandai bersabar. Semakin seseorang mampu
bersabar, niscaya akan semakin indah pula akhlaknya. Jaminan Allah
pun demikian luar biasa bagi ahli sabar. "Sesungguhnya hanya orang-
orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas!"
(QS. Az-Zumar:10).

"Dan berikanlah kabar gembira pada orang-orang yang sabar, yang
apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillaahi wa inna
ilahi raaji'uun'. Mereka itulah orang-orang yang mendapat rahmat
dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk". (QS. Al-Baqarah:155-157). Wallahu a'lam bish-shawab

Pesona Syukur dan Sabar
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah SWT Yang Mahapemurah menetapkan kita menjadi bagian dari
orang-orang yang layak mendapat tambahan nikmat dan tingginya
kedudukan di sisi-Nya karena rasa syukur dan sabar kita. Seperti
firman Allah SWT, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku,
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7).

Syukur dan sabar adalah kunci bagi meningkatnya keimanan seseorang
pada Allah SWT. Berbagai sarana telah disediakan bagi tumbuhnya rasa
syukur dan sabar dalam diri, baik berupa kenikmatan ataupun ujian,
bertafakkur terhadap berlikunya nilai hikmah, evaluasi diri dan
melihat dari dekat ujian yang ditimpakan pada para mustad'afiin,
tuntutan menyempurnakan ikhtiar, husnuzhan kepada Allah dan lain-
lain.

Syukur dan sabar juga merupakan sarana meningkatkan kualitas diri
agar lebih berharga dalam pandangan Allah SWT. Seseorang yang pandai
bersyukur akan senantiasa bertahtakan kesabaran, meski berada dalam
ujian penderitaan. Apapun yang kemudian mereka dapatkan, mereka
kembalikan kepada yang memberikan semua itu, Allah SWT. Allah SWT
sendiri memberi tanda kepada golongan orang-orang seperti ini,
sebagaimana firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun'"
(Al-Baqarah [2]:156).

Keterbatasan harta bagi mereka bukan sebuah bencana yang akan
menghancurkan hidupnya, tetapi lebih merupakan ujian yang dijanjikan
Allah Swt yang akan berbuah pada meningkatnya kualitas iman dalam
diri. Rasa sakit yang begitu pedih akan senantiasa ia sikapi dengan
penuh kesabaran sebagaiman Nabiyullah Ayub AS. Ketika menyikapi hal
tersebut, ia yakin bahwa sakit merupakan ujian Allah SWT yang akan
berbuah pada bergugurannya dosa-dosa yang dimilikinya, sehingga kelak
mereka mendapatkan keberuntungan memasuki surga Allah tanpa hisab,
subhaanallah.

Keindahan orang-orang yang memiliki pribadi syukur dan sabar akan
tampak dalam pola hidup kesehariannya. Ia tidak akan memiliki sikap
sombong meskipun bergelimangan harta dan kemewahan. Pribadinya terasa
sejuk dan penuh keakraban. Namun demikian, ia juga penuh dengan
kegigihan untuk tetap berjuang di jalan Allah untuk meraih keridhaan-
Nya. Tak ada kebencian di antara mereka. Kalaupun mereka menemukan
hal, yang satu sama lain kurang berkenan, mereka akan lebih memilih
saling memberikan taushiah (berwasiat) dengan penuh kebenaran dan
kesabaran, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ashr ayat
3: "Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling
berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran."

Sungguh indah pribadi-pribadi yang memiliki sifat syukur dan sabar
dalam dirinya, sehingga tidak tampak sama sekali dalam dirinya
penyesalan dalam penderitaan, rasa putus asa dalam ujian, ingin
berontak ketika diharuskan taat pada syari'at. Karena keindahan
pribadinya, Allah merelakan diri-Nya duduk bersama golongan orang-
orang seperti ini. Firman Allah SWT, "Sebagai nikmat dari Kami.

Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur
(QS. Al-Qamar [54]:35). Pada surat lain Allah SWT juga
berfirman, "...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"
(QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Berbeda sekali dengan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan
bersabar atas nikmat dan ujian yang datang dari Allah. Nikmat dunia
yang melimpah mereka anggap semata-mata karena hasil usaha dan kerja
keras yang mereka lakukan sendiri. Gelimangnya harta bagi mereka
sikapi dengan pesta pora menikmati keindahan dunia, yang sesungguhnya
fana. Berkurangnya harta dunia membuat golongan orang-orang yang
seperti ini tidak tenang, cemas dan tidak menentu. Mereka menganggap
bahwa kesenangan yang sesunguhnya hanya dapat diukur dengan harta
yang banyak dan melimpah, sehingga mereka merasakan kebingungan yang
amat sangat ketika harta dunia tiada dalam genggamannya.

Kesehatan fisik yang dimilikinya tidak mereka sadari sebagai karunia
Sang Mahapemberi nikmat, sehingga mereka pergunakan untuk bermaksiat
terhadap Allah. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kesehatan
yang ada dalam genggamannya suatu saat akan hilang dan berganti
menjadi rasa sakit. Mereka juga tidak menyadari bahwa nikmat-nikmat
lain yang selama ini diterimanya akan dihisab kelak di akhirat.

Sungguh nista perilaku orang-orang yang tidak mampu bersyukur akan
nikmat yang telah diberikan Allah. Belum lagi ketika mereka ditimpa
dengan ujian. Sakit yang diderita mereka sikapi dengan keluh kesah
yang berkepanjangan, dan putus asa seolah tiada akan berkesudahan.
Ujungnya, hanya penderitaanlah yang akan dirasakan oleh orang-orang
seperti ini. Sekecil apapun rasa sakit yang dideritanya, akan terasa
berat dan membebani dirinya. Rasa sakit yang sesungguhnya ringan
mereka dramatisir sedemikian rupa seolah sebuah sakit yang berat
dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari orang-orang di
sekelilingnya. Ketika tidak mendapatkan simpati yang diinginkannya,
mereka semakin merasakan penderitaan yang amat sangat.

Sungguh kasihan dan malang orang-orang yang tidak mampu bersyukur
terhadap nikmat Allah dan bersabar terhadap ujian yang diberikan
Allah. Karena, bukan hanya penderitaan dunia saja yang akan diperoleh
orang-orang seperti ini, melainkan juga hisab yang berat dan
penderitaan yang sangat pedih di akhirat kelak. Firman Allah
SWT: "...dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-
Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim [14]:7). Naudzubillahi min zaalik.

Untuk itu, mari kita sama-sama berharap akan pertolongan Allah SWT
semoga Allah Yang Mahapemurah dan Mahaadil senantiasa menggolongkan
kita sebagai hamba-hambanya yang senantiasa mampu bersyukur akan
semua nikmat Allah dan bersabar atas ujian yang ditimpakan-Nya. Kita
juga memohon perlindungan-Nya agar kita tidak dimasukan ke dalam
golongan orang-orang yang tidak mampu bersyukur dan bersabar atas
apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Wallahua'lam.

Belajar Memahami Anak-anak
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Anak merupakan amanah Allah yang harus kita didik agar menjadi anak
saleh yang dapat membantu orang tuanya menjadi ahli surga. Bukankah
selain ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, doa anak yang saleh
merupakan amalan yang tidak akan putus walaupun kita wafat kelak?
Memang tidak mudah hanya sekadar mewujudkan cita-cita ini, kalau apa
yang kita berikan kepada anak hanya berupa teori-teori hidup belaka.

Kenyataannya, orang tua perlu berkolaborasi serta memberikan
dukungannya bila hendak menerapkan pola hidup yang Islami apalagi
terhadap anak-anak. Jangan sampai kita salah dengan alasan untuk
melindungi anak sementara di sisi lain kita tengah berusaha sekuat
tenaga untuk menegakkan kebenaran (Islam). Kekompakan orang tua dalam
keluarga akan sangat membantu melahirkan anak-anak saleh.

Oleh karena itu, salehkanlah diri kita dulu selaku orang tua. Jika
kita, misalnya ingin anak-anak melaksanakan shalat wajib tepat pada
waktunya maka kita pun harus menerapkan hal yang sama. Sebab, orang
tua merupakan model bagi anak-anaknya. Mereka akan mencontoh apa yang
orang tua kerjakan. Jangan mimpi anak akan menjalankan ibadah shaum
dengan benar, jika orang tuanya sendiri masih tak konsisten dengan
ibadah ini.

Dan biasanya, untuk ini orang tua lebih suka egois. Terkadang mereka
malah suka memberi alasan bahwa hal yang dilarang buat anak-anaknya
tidak berlaku bagi mereka. Sebagai contoh kecil adalah saat orang tua
melakukan kesalahan makan menggunakan tangan kiri dan hal itu lalu
dipergoki anaknya; pada akhirnya orang tua membuat banyak alasan agar
tetap terlihat baik di mata anaknya.

Alhasil, jangan pernah berharap anak akan melakukan hal yang kita
perintahkan kalau ternyata kita sendiri tidak melakukan hal sama.
Juga, jangan pernah kita merasa malu kalau diingatkan oleh anak-anak
kita sendiri. Biasakan untuk mendengarkan pendapat-pendapat dan
keinginan mereka sehingga komunikasi dapat berlangsung lancar.

Dengan demikian, akan mudah bagi anak-anak untuk menerima apa yang
kita perintahkan, misalnya, untuk shalat tepat pada waktunya. Dengan
cara mereka melihat sendiri orang tua mereka shalat pada waktunya,
hati mereka insya Allah akan tergerak untuk melakukan hal yang sama.

Dan setelah ini tentu saja tidak cukup hanya dengan keteladanan.
Karena bisa jadi hanya berlaku untuk beberapa saat. Anak-anak akan
tumbuh dewasa. Di saat seperti itu, biasanya mereka ingin bebas
melakukan apa saja yang mereka sukai. Mereka senantiasa berusaha agar
pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang
dewasa, dalam kedudukannya yang bukan lagi sekadar objek.

Sayangnya, dengan kondisi seperti itu, masih banyak orang tua yang
memaksa anaknya untuk selalu menerima pendapat atau jalan pikiran
orang tua. Sikap otoriter seperti itu justru akan menghancurkan harga
diri anak dan membuatnya merasa bersalah. Sikap otoriter orang tua
sebenarnya dapat memberikan efek samping yang sangat merugikan anak.

Anak jadi takut untuk mengambil keputusan, kurang percaya diri, mudah
sakit, dan menjadi emosional karena perasaannya tertekan. Lebih fatal
lagi, mereka bisa menunjukkan sikap melawan, baik secara terselubung
maupun terang-terangan.

Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat, maka pendekatan
yang bersifat demokratis dan terbuka akan terasa lebih bijaksana.
Salah satu caranya dapat dilakukan dengan membangun rasa saling
pengertian, di mana masing-masing pihak berusaha memahami sudut
pandang pihak lain.
Biasanya, anak-anak yang telah beranjak besar tidak mau dipermalukan
di hadapan orang lain.

Karena itu, cara mengingatkan
dan memberikan nasihat harus diubah

dengan terus menerus berkomunikasi langsung dengan anak-anak tanpa
ada orang lain yang menyaksikannya. Dengan begitu, selain privasi
mereka terjaga, secara tidak langsung kita pun menghargai kedewasaan
mereka.
Mulai dari sekarang, mari kita luangkan waktu untuk belajar memahami
anak-anak.

Kita, sebagai orang tua, jelas sudah "berpengalaman" menjadi anak-
anak. Tetapi anak-anak? Saya kira mereka belum pernah mempunyai
pengalaman menjadi orang tua. Dengan demikian, orang tua-lah yang
kiranya harus belajar memahami anak dengan lapang hati. Tentu saja,
apapun yang kita lakukan tidak lepas dari unsur ibadah dan
pendidikan. Artinya, memahami anak bukan berarti menjadi kekanak-
kanakan, melainkan menyelami dunia mereka agar kita mudah
mengarahkannya.
Wallahu a`lam.

Bersihkan Hati
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah bisa berjumpanya
dengan Allah. Ingatlah, "(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak
tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
qolbun saliim (hati yang bersih)." (QS Asy Syu'araa' [26]: 88-89).

Firman-Nya, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya." (QS Asy Syams [91]: 7-9)

Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi
beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja
keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama,
semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila
dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih.

Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar
sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha
Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal
besar tetap tertolak jika tak ikhlas.

Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau
setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering
salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut
dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu.

Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat).
Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin
diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal
berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban,
jika tak menunaikan berarti berdosa.

Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal,
misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh
saja, tapi Allah Mahatahu niat di balik setiap cerita, apakah
niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah.
Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau
niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal
kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru
lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.

Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan
merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran
menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal
hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan
pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.

Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak
berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang
lain. Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi
ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau
tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling
shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas
dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup
bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di
tengah, maupun akhir amal-amal kita.

Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena
kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang
bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan
menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang
berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang
selamat, yang bersih dari kebusukan.

Ya Allah, ampuni seluruh dosa-dosa kami, hapuskan sekelam apapun
kesalahan kami, hapuskan sekotor apapun aib-aib kami. Ya Allah
bersihkan diri kami dari segala kesombongan dan sifat riya kami
selama ini. Ampuni jikalau Engkau menyaksikan kami ujub. Juga ampuni
segala kedengkian dan kebencian kami terhadap apapun dan siapa pun
yang Engkau cintai.

Ya Allah, bersihkan hati kami sebersih-bersihnya, jadikan hati ini
hanya puas dengan ridha-Mu. Jadikan hati kami hati yang bening, hati
yang selalu nikmat dengan apapun yang terjadi.

Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan
kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada
hamba-hamba-Mu yang shalih. Berikan kepada kami kesanggupan rendah
hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas.

Wahai Allah, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami, kepada-Mulah
kembalinya segala urusan, terimalah amal-amal kami.

Pelajaran dari Anak-anak
Penulis : KH Abdullah Gimnastiar

Bila kita mau sedikit mencermati perilaku anak-anak, sungguh betapa
banyak hal yang dapat kita pelajari dan kita ambil hikmahnya. Lihat!
Anak kecil itu punya semangat pantang menyerah yang patut ditiru
orang dewasa. Perhatikan anak yang sedang belajar jalan.

Langkahnya tertatih-tatih dan sesekali diselingi jatuh yang membuat
kakinya lecet atau bengkak, namun dia tidak berpikir bahwa dia tidak
memiliki bakat berjalan.

Karena itu dia terus berlatih tanpa kenal lelah. Kalau saja kita
dapat mengambil hikmah darinya, maka akan kita ketahui bahwa walaupun
mereka gagal mereka tak pernah merasa malu walaupun harus benjol sana-
sini.

Selain tidak kenal menyerah, ada satu hal yang menarik dari anak-anak
yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran. Anak-anak umumnya lebih
cepat akur dan akrab kembali dengan temannya ketika mereka terlibat
pertengkaran. Semenit sebelumnya, mereka saling adu mulut dan rebutan
boneka. Namun semenit kemudian mereka bisa terlihat saling berbagi
makanan.

Lantas mengapa kita sebagai orang dewasa malah takut gagal?
Sesungguhnya kita tidak perlu merasa malu karena kegagalan kita.
Kejatuhan kita dari sesuatu bukanlah kegagalan, karena yang namanya
gagal adalah tidak pernah mau berbuat untuk memulai sesuatu!

Pelajaran lain yang bisa diambil dari anak-anak adalah, kepolosan.
Mereka menjalani kehidupan apa adanya, mereka tidak pernah
dipusingkan oleh keadaan. Tidak pernah mereka meminta orangtuanya
untuk menghiasinya dengan pakaian-pakaian ala selebritis. Tak pernah
mereka meminta untuk diajari diet agar langsing dan bagus
penampilannya. Anak kecil itu sungguh polos: pikiran dan hati mereka
merdeka. Jika k
ita menirunya dalam konteks positif niscaya hidup kita

tidak akan sengsara.

Satu lagi keunikan anak kecil, yaitu kreatif. Sesungguhnya di benak
anak kecil itu terdapat banyak kreativitas. Lihat saja, dengan
kepolosannya anak kecil mencoret-coret dinding untuk mengekspresikan
kreativitasnya.

Meskipun begitu, ada juga beberapa perilaku anak yang tidak layak
ditiru orang dewasa. Salah satunya adalah tidak punya rasa malu. Anak
kecil tidak malu kencing di celana dan dia pun tidak malu menangis di
tempat umum. Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari anak-anak
kita di rumah. Oleh karenanya, anak-anak jangan hanya dijadikan
sebagai objek kita untuk mengekspresikan sesuatu kepada mereka, tapi
mereka pun harus menjadi input bagi kita. Input yang paling berharga
lainnya adalah sifat mereka yang jujur.

Sifat anak kecil lainnya yang tidak patut untuk kita tiru adalah suka
pamer dan menang sendiri. Apapun yang dimilikinya, anak kecil
cenderung ingin memperlihatkan pada teman-teman atau orang-orang di
sekitarnya. Tentu sangat naif sekali jika orang dewasa meniru
kebiasaan yang satu itu. Anak kecil memamerkan mainan miliknya bisa
jadi akan terlihat lucu, karena kita yakin tujuannya bukan untuk
sesuatu yang negatif. Akan tetapi merupakan sebuah kesalahan besar
kalau orang dewasa suka pamer.

Anak kecil juga belum memiliki kemampuan perhitungan seperti orang
dewasa, sehingga ia cenderung selalu ingin menang sendiri dan suka
memaksakan kehendak semaunya. Ironisnya, banyak juga dewasa yang suka
memaksa kalau sudah punya keinginan. Seorang istri yang kurang mantap
imannya bisa memaksa suami untuk memenuhi semua keinginannya. Pada
akhirnya, banyak para suami yang terpaksa korupsi karena dorongan
istrinya yang selalu ingin ini dan itu.

Lalu bagaimana cara orangtua menghilangkan kebiasaan suka pamer dan
selalu ingin menang sendiri pada anak kecil agar tidak terbawa sampai
dewasa? Pertama sekali harus dapat dipahami bahwa orang pertama yang
harus lebih dewasa di rumah itu adalah ibu dan bapak sebagai
orangtua. Kedewasaan tersebut dimulai dengan cara mengendalikan diri
dari ingin menang sendiri, karena ada beberapa orangtua yang tidak
mau mengajak anaknya untuk berdialog, mereka lebih suka mendikte anak
sesuai dengan keinginan mereka. Padahal, harus disadari bahwa apa
yang menurut orangtua baik, belum tentu benar-benar baik bagi anak.

Karena itu, mari kita biasakan untuk berkomunikasi dua arah yang baik
dengan anak-anak di rumah. Komunikasi yang baik di sini maksudnya
adalah komunikasi yang dapat memberikan rasa aman. Jika merasa aman,
maka seseorang cenderung lebih terbuka, maka tatkala seorang anak itu
melakukan kesalahan maka dia akan dengan sukarela mengaku pada
orangtuanya.

Biasakan untuk bertukar pikiran dengan anak-anak. Mereka mau menang
sendiri, memang dunia anak-anak seperti itu. Orangtua tinggal
mengarahkan dan memberikan pandangan tentang untung dan rugi yang
akan didapat dari perilaku mereka. Ingat! Kita pernah berpengal man
menjadi anak-anak, tapi anak-anak belum berpengalaman menjadi
orangtua. Sehingga adalah kewajiban kita para orangtua untuk memahami
dan mengarahkannya. Wallahu a`lam.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *