Aliran Jabariyah ( Ilmu Kalam )

Asal-usul aliran Jabariyah

Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Didalam Al- Munjid, dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata Jabara yang mengandung arti Memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam bahasa inggris, Jabariyah disebut Fatalism atau Predisnation, yaitu Paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia ditentukan dari semula oleh Qada dan Qadar Tuhan.

Paham Al-Jabar pertama kali dikenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm Bin Shafwan dari khurasa. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliranJamhiyah dalam kalangan Murji’ah. Ia adalah sekertaris Suraih bin Al-haris dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani umaiyah. Namun dalam perkembangannya, paham Al- Jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainya diantaranya Al- Husain bin Muhammad An-Najjar dan Ja’d bin Dirrar. Lebih lanjut, Harun nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian, Masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri.Akhirnya,mereka banyak bergantung pada kehendak alam. Hal ini membawa mereka kepada sifatfatalism.

Sebenarnya benih-benih faham Al- Jabar sudah muncul jauh sebelum kedua tokoh diatas. Benih-benih itu terlihat dalam peristiwa sejarah berikut:

  1. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sekarang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut agar terhindar kekeliruan penafsiran  tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
  2. Khalifah Umar bin Khattab pernah menangkap seseorang yang ketahuan mencuri. Ketika di introgasi pencuri itu berkata,”Tuhan telah menentukan aku mencuri.” Mendengar ucapan itu, Umar marah sekali dan menganggap orang tersebut telah berdusta kepada Tuhan.
  3. Khalifah Ali bin Abi Thalib sesuai perang Shiffin ditanya oleh seorang tua tentang Qadar (ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia.Sekiranya Qada dan Qadar itu merupakan paksaan, batallah pahala dan siksa,gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan , serta tidak ada celaan allah atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang yang baik.
  4. Pada pemerintahan Daulat Bani Umaiyah, pandangan tentang Al-Jabar semakin mencuat kepermukaan.Abdullah bin Abas, melalui suratnya, memberikan reaksi keras kepada penduduk Syria yang diduga berpaham Jabariyah.

Berkaitan dengan kemunculan Jabariyah, ada yang mengatakan bahwa kemunculannya diakibatkan oleh pengaruh pemikiran asing,yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.Namun,tanpa pengaruh asing itu,paham Al-Jabar akan muncul juga dikalangan umat Islam.Didalam Al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang dapat menimbulkan paham ini misalnya:

Artinya:

 kalau Sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(QS.Al-An’am [6]:111)

Artinya:

Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.(QS.Ash-Shaffat:96)

Ayat-ayat tersebut terkesan membawa seseorang pada alam pikiran Jabariyah. Mungkin ini yang menyebabkan pola fikir Jabariyah masih tetap ada dikalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada.

Dalam perjalanan sejarahnya, Islam pernah terkonstaminasi pemikiran dari luar Islam tentang memahami masalah taqdir.Sehingga muncul paham yang saling bertolak belakang yaitu paham Jabariyah dan pahan Qadariyah.Paham Jabariyah muncul karena terpengaruh dengan pikiran dari aliran diterminismus dan theoogis Islam.Paham ini mula-mula timbul dikhurasan (persi) dengn pimpinannya yang pertama bernama Jahm bin Shafwan dan karena itu muzhabnya disebut madzhab Jahamiyah. Mazhab ini banyak yakubiyah dalam Agama Kristen.

Ternyata jahm bin Shaffwan mendirikan aliran Jabariyah ini belajar dari seorang Yahudi yang masuk Islam bernama Thalub A’Sham. Paham jabariyah berpendirian bahwa Allah saja yang menentukan, menetapkan dan memutuskan segala nasib hingga amal perbuatan manusia. Hanya Qudrat dan Iradat Allah yang berlaku.Manusia diibaratkan sebagai kapas yang beterbangan mengikuti tiupan angin. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk memilih jalan kehidupannya.[1] Selain penggerak gerakan jabariyah, jahm juga seorang pemimpin gerakan yang mengatakan ; bahwa Allah ta’ala itu tiada mempunyai sifat sifat. Menurut jahm, tuhan hanya mempunyai zat saja. Walaupun terdapat ayat yang menyebutkan sifat-sifat Tuhan seperti sama’,bashar, kalam  dan sebagainya yang harus di takwilkan. Mengartikan secara lahir saja, tentulah menagkibatkan pengertian Allah serta makhluknya, keadaan denikian,mustahil disisi Allah ta’ala dengan makhluknya. Keadaan demikian,mustahil disisi Allah ta’ala. Oleh karena itu wajiblah ditakwilkan memahamkannya.[2] Paham Jabariyah melegetimasi pendiriannya dengan berpegang kepada ayat Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 96, yang

Berbunyi “ Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.   Dalam perkembangan sejarahnya , paham ini berkembang dan banyak diikuti oleh umat Islam.

2.Para pemuka Jabariyah dan doktrin-doktrinnya

Menurut asy-Syahratsani, Jabariyah dapat dikelompokan menjadi 2 bagian,Ekstrim dan Moderat.Doktrin Jabariyah Ekstrim adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri,tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya.

Diantara pemuka Jabariyah Ekstrim adalah berikut ini:

  1. Jahm bin Shofwan

Nama lengkapnya adalah  Abu Mahrus Jahm bin Shafwan. Ia berasal dari khurasan ,bertempat tinggal di Khuffa. Ia seorang Da’I yang fasih dan lincah ( orator). Ia menjabat sebagai sekertaris haris bin Surais, seorang Mawali yang menentang pemerintah Bani Umaiyah di Khurasan. Ia ditawan dan dibunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan Agama.

Sebagi seorang penganut dan penyebar Paham jabariyah banyak usaha yang dilakukan jahm yang tersebar keberbagai tempat,seperti ketirmidz dan balk.

Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah SBB:

1)      Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa.Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.

2)      Surga dan neraka tidak dikekal. Tidak kekal selai Tuhan

3)      Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.Dalam hal ini pendapatnya sama dengan konsep iman yang diajukan kaum Murjiyah.

4)      Kalam Tuhan adalah makhluk.Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara,mendengar,dan melihat.

Begitu pula Tuhan tidak dilihat dengan indra mata diakhirat kelak.

Dengan demikian dalam beberapa hal,pendapat Jahm hamper sama dengan Murji’ah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Itulah sebabnya para pengkritik dan sejarah wan  meyebabkan dengan Al-mu’tazilah, Al- Murji’ah dan Al- asy’ari.

  1. Ja’d bin dirham

Al-ja’d adalah seorang Maulana bani Hakim, tiggal Di Damaskus. Dia dibesarkan didalam lingkungan orang Kristen  yang senang membicarakan teologi. Semula dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani umaiyah, tetapi setelah tampak pikiran – pikirannya  yang controversial, bani Umaiyah menolaknya. Kemudian Al-ja’d lari ke kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm serta mentransper pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebar luaskan.

Dokterin pokok Ja’d secara umum sama dengan pikiran Jahm.  Al-Ghuraby menjelaska sbb:

1)      Al- Quran itu adalah Mahkluk. Oleh karena itu, dia baru.Sesuatu yang baru itu tidak dapat di sefatkan kepada Allah.

2)      Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan mahkluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar.

3)      Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

Berbeda dengan jabariyah Ekstrim, Jabariyah Moderat mengatakan bahwa tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Tetapi manusia mempunyai  bagian didalamnya. Tenaga yang diciptakan didalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatanya. Inilah yang dimaksud dengan Kasab (Acquisitin). [3]Menurut Paham kasab, manusia tidaklah Majbur ( Dipaksa Oleh Tuhan), tidak seperti Wayang yang dikendalikan Oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan.

Yang termasuk Tokoh Jabariyah Moderat adalah sbb:

  1. An- Najjar

Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An- Najjar ( Wafat 230 H ). Para pengikutnya disebut An-Najariyah Al-hasainiyah.Diantara pendapat-pendapatnya adalah:

  1. a) Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia            mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.Itulah yang disebut khasab dalam teori Al-asy’ary. Dengan demikian,Manusia dalam pandangan An-Najjar tidak lagi seperti wayang yang gerakannya tergantung pada dalang,sebab tenaga yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuata-perbuatannya.
  2. b) Tuhan tidak dapat dilihat diakhirat . akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa tuhan dapat saja memindahkan potensi hati ( Ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.
  3. Adh-Dhirar

Nama lengkapnya adalah Dhirar Bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan husein An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakan dalang.Secara tegas,Dhirar mengatakan bahwa suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artunya perbuatan manusia,tidak hanya dilakukan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri.

Mengenai Ru’yat Tuhan diakhirat, Dirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat diakhirat melalui indra ke enam.Ia juga berpendapat bahwa Hujjah yang dapat diterima oleh Nabi adalah Ijtihad . Hadis ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan Hukum.

Kesimpulan

Nama jabariyah berasal  dari Jabara yang mengandung arti memaksa .Aliran jabariyah adalah suatu gerakan yang menentang kadariyah. Pembangunya adalah Jahm bin Shafwan kadang-kadang jabariyah ini juga dinamakan jahmiah. Paham utamanya adalah bahwa manusia dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun untuk bertindak dalam keadaan terpaksa,tidak bebas dalam mengerjakan sesuatu.Allah lah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, apa yang akan dikerjakannya, yang dikehendaki oleh manusia ataupun tidak.Jadi Allah yang memperbuat segala pekerjaan manusia.dalam istilah ini paham ini disebut fatalism atau predestination.Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan oleh semua Qada dan Qadar Tuhan.

Daftar pustaka

Safni rida,2010,Ilmu kalam,Curup: LP2STAIN

Thaib thahir.1986 Ilmu Kalam.Jakarta:widjaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *