PENDEKATAN MANAJEMEN

  1. Teori  Klasik

Teori klasik berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logic, dan bekerja merupakan suatu yang diharapkan. Salah satu teori klasik adalah manajemen ilmiah (scientific manajement) dipelopori oleh Prederik W. Taylor (1856-1915). Pendekatan ini berpandangan bahwa yang menjadi sasaran manajemen adalah mendapatkan kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawannya. Untuk itu manajemen harus melaksanakan prinsip-prinsip:

  1. Perlu dikembangkannya ilmu bagi settiap petugas (pedoman gerak, implementasi kerja yang standar dan iklim kerja yang layak)
  2. Pemilihan karyawan yang tepat sesuai dengan persyaratan kerja
  3. Perlunya pelatihan dan perangsangan
  4. Perlunya dilakukan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan

Filley, Kerr dan Hous (1976) kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar dikemukakan sebagai berikut:

  1. Teori yang terikat waktu. Teori ini cocok untuk diterapkan dipermulaan abad dua puluhan, karena motif pekerjaan waktu itu terutama memenuhi kebutuhan fiolagis.
  2. Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori yang menekankan pada prisip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen.
  3. Teori ini merumuskan asumsi secara eksplisit. Yaitu yang efesiensinya hanya diukur oleh tingkat produktifitas yang hanya menyangkut penggunaan sumbersecara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi.

 

 

2. Teori Neo-Klasik

Teori ini timbul karena pada para manajer terdapat berbagai kelemahan dengan pendekatan klasik. Teori ini berasumsi bahwa manusia itu makhluk sosial dengan mengaktualisasikan dirinya. Beberapa pelopor aliran teori neo kalsik antara lain Elton Mayo dengan studi dengan hubungan antar manusia, atau tingkah laku manusia dalam situasi kerja terkenal dengan studi Howthone. Berdasarkan hasil studi ini ternyata kelompok kerja informal lingkungan sosial pekerja mempunyai pengaruh yang besar terhadap produktivitas.

Pelopor lainnya adalah Douglas McGregor, ia menyatakan bahwa manajemen akan mendapat manfaat besar bila ia memenuhi perhatian pada kebutuhan sosial dan aktualisasi dari karyawan. Gregor  mengemukakan ada dua teori yaitu:

  1. Teori X, yang berasumsi bahwa manusia itu tidak menyukai kerja, tidak ada ambisi, tidak ada tanggung jawab, menolak perubahan dan lebih baik dipimpin dari memimpin.
  2. Teori Y, mengandung isi bahwa manajer memandang bawahan bersedia bekerja, bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri, dan berpandangan luas secara kreatif.

Implikasi dari asumsi-asumsi itu bila manajer mengikuti teori X cenderung pada tingkat ketergantungan karyawan pada atasan dan enggan untuk bertindak. Dan pada teori Y cenderung mendorong untuk berpartisipasi, ada keabsahan, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya.

Vromm (felly 1976 ) dengan teori harapan (Ekspektasi) mendasarkan pada dua asumsi, berikut:

  1. Manusia menilai kepada suatu yang diharapkan dari hasilnya.
  2. Suatu usaha yang dikerjakannya akan memberiakan sumbangan terhadap tujuan yang diharapkan.

Vromm mengajukan formulasi prestasi yang berhubungan langsung dengan motivasi sebagai berikut:

P          =f(M x A)

M         =f(V x E)

P          =f(A x V x E)

Keterangan:

P          =Prestasi Kerja

M         =Motivasi Kerja

A         = ability (kemampuan)

V         =Valiensi (prefensi Keinginan)

E          =Ekspektasi (harapan)

Artinya, prestasi kerja seseorang merupakan fungsi dari motivasi dikali ability. Motivasi sendiri merupakan fungsi perakalian dari valensi dengan ekspektasi. Valensi merupakan preferensi keinginan seseorang terhadap sesuatu yang nilainya antara 0-1. Jika sesuatu seseoarng dianggap mempunyai daya tarik bagi orang yang bersangkutan. Sebaliknya, jika mempunyai nilai valensi satu, maka sesuatu yang ditawarkan oleh organisasi mempunyai daya tarik yang sangat tinggi.

  1. Teori Modern

Pendekatan modern berdasarkan hal-hal yang sifatnya situasioanal. Artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan. Menurut Murdick dan Ross, system organisasi itu terdiri dari individu, organisasi formal, organisasi informal, gaya kepemimpinan, dan prestasi fisik yang satu sama lain saling berhubungan.

Wiliam A.Shrode dan D. Voich mendefinisikan system berikut; A system is a set of interrelated parts, working independently and jointly, in pursuit of common objectives of the whole a compleks environment. Fitz General and Stalling, system adalah; a system can be defined as a network of interalated procedures that are joint together to performant activity or to occomplish a specific objectives. It is, in, in effct, all ingredient which make up the whole. Dari pengertian tentang system, dapat di identifikasi bahwa sestem mempunyai makna;

  1. Terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu dengan lainya.
  2. Bagian-bagian yang saling berhubungan itu dapat berfungsi baik secara independen maupun secara bersama-sama
  3. Berfungsinya bagian-bagian tersebut ditujukan untuk mencapai tujuan umum secara keseluruhan.
  4. Sesuatu system terdiri dari bagian-bagian itu berada dalam suatu lingkungan yang kompleks

Berdasarkan pengertian diatas secara eksplisit dikemukakan bahwa sesuatu system itu lebih cenderung bersifat terbuka. Hal ini dinyatakan dengan adanya aspek lingkungan yang berhubungan erat dengan bagian-bagian dari system yang berperan.

Di dalam pencapai tujuan organisasi, menurut teori sistim harus didasarkan pada lima asumsi dan perinsip bekerja itu adalah sebagai berikut.

Asuransi Prinsip
1. Organisasi merupakan sistim terbuka.

2. Organisasi menyapai prestasi maksimum

3. Tujuan organisasi sangat berfasiasi.

4. Tujuan organisasi saling berhubungan.

5. Tujuan organisasi berubah ubah.

1. Service untuk lingkungan

2. Prinsip optimisme.

3. Multidimensional.

4. Prinsip kehormatan.

5. Prinsip pengurangan resiko.

Secara lebih spesifik Riyans (1968) mengemukakan karakteristik system dibidang pendidikan, sebagai berikut;

  1. Berbagai supsistem, baik fasilitas fisik maupun sumber-sumber lain yang berhubungan dengan sub sistem, merupakan komponen yang saling bergantung, dan saling berhubungan.
  2. Kondisi yang perlu untuk terjadi interaksi antar elemen dari suatu sistem, adalah adanya jaringan informasi bersama (a common information network). Komunikasi anntar elemen sangat penting dalam menjamin berfungsinya suatu sistim sebagai suatu kesatuan (entity) yang terorganisasi dalam menjamin sistem itu menghasilkan keluaran.
  3. Berfungsinya sistem pendidikan yang dasarnya bergantung kepada fungsinya kontrol terhadap aliran dan trenformasi informasi antar elebmen dan sistem tersebut dan antar beberapa sistem yang ada di luar yang berpenaruh terhadap sistem pendidikan.
  4. Pengelolaan informasi merupakan hal yang inherent dalam berfungsinya suatu sistem.

Menapa pendidikan memerlukan pendekatan sistem. Pendekatan sistem merupakan suatu metode atau tehnik analisis yang secara khusus sisebut analisis sistem terutama yang memecahkan masalah, dan pengambilan keputusan.

Analisis sistem mencakup

  1. Menyadari adanya masalah.
  2. Mengidentifikasi vareabel yang releven.
  3. Menganalisis dan mensintesiskan faktor-faktor.
  4. Menentukan kesimpulan dalam bentuk program.

Penggunaan pendekatan diatas sangat diperlukan oleh dunia pendidikan dengan alasan;

  1. Lembaga-lembaga pendidikan telah menjadi semakin komplek dan semakin su.lit untuk dikelola.
  2. Perubahan yang terjadi dalam organisasi pendidikan semakin lama semakin cepat.
  3. Masih langka para pengelola sistem dan satuan suatu  pendidikan yang professional.
  4. Pertumbuhan dan perkembangna pendidikan relative cepat disertai pertambahan anggaran yang tidak sedikit, seringkali mengurangi kesadaran bahwa terdapat kekeliruan-kekeliruan dalam merencanakan dan mengelola pendidikan.
  5. Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan perlu ditingkatkan.

Beberapa keunggulan pendekatan sistem dalam mengelola pendidikan antara lain;

  1. Misi, sasaran, dan tujuan lembaga pendidikan yang dijabarkan lebih luas
  2. Program-program yang dirumuskan selalu diarahkan pada tujuan dan sasaran
  3. Orentasi kegiatan diarahkan kepada hasil akhir
  4. Perencanaan dipandang sebagi bagian integral dari keseluruhan operasi lembaga atau organisasi pendidikan
  5. Sumber-sumber daya dapat dialokasikan dengan lebih efektif berdasarkan sksla prioritas yang disusun menurut besarnya sumbangan terhadap pencapaian tujuan
  6. Informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu
  7. Segal kegiatan dapat difokuskan pada pencapaian sasaran, sehingga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin.
  8. Pimpinan pengelola dapat dinilai hasil pekerjaannya secara objektif Karena sarat pekerjaan jelas
  9. Penegelola dapat mengembangkan kreativitas dalam batas kewenangan yang telah ditetapkan
  10. Akuntabilitas dapat dirumuskan secara jelas dan operasional
  11. Umpan balik dapat diperoleh pada semua tingkat pendidikan
  12. Komunikasi antar komponen dapat terbina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat dikurangi
  13. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secar lebih baik

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori modern dengan pandangan sistem memandang organisasi itu terbuka dan kompleks. Tiga unsur pokok yaitu; analisis sistem, rancangan sistem, dan manajemen member petunjuk dalam mengoprasionalkan pendekatan sistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *